Tahun baru senantiasa menjanjikan harapan baru. Namun alangkah bijaknya bila kita meninggalkan masa lalu sebagai pengalaman berharga. Karena orang bijak bicara: “Sejarah adalah guru kehidupan”. Begitu pun dalam perjalanan suatu organisasi seperti Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Kalau kita sejurus mengingat BPD di tahun 2007, maka tidak lepas dari polemik penempatan dana di SBI dan bagaimana BPD memenuhi tuntutan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Namun di akhir tahun, kiprah BPD menjanjikan harapan baru melalui terobosan kerja sama di bidang IT. BPD Net Online, yang telah menghubungkan 23 dari 26 BPD yang ada, diluncurkan. Hal ini akan memberikan kemudahan bagi nasabah untuk melakukan transaksi di mana saja di seluruh kantor cabang secara realtime. Sungguh terobosan yang berkelas internasional, sekelas dengan the Cantonal Bank Group (BPD Group) di Swiss.

Memasuki tahun baru menjadi penting untuk melakukan retrospeksi bagaimana sesungguhnya kinerja BPD, bagaimana kesiapannya menghadapi tuntutan API yang tinggal sebentar lagi dan kiranya pelajaran apa yang dapat dipetik untuk mengokohkan peranan BPD dalam pembangunan ….

Optimalisasi Peran BPD

Beberapa waktu silam, negara tetangga, Australia, melakukan pergantian kepemimpinan melalui proses pemilu yang efisien. Tidak sampai sehari setelah waktu pencoblosan, hasilnya sudah dapat ditentukan. Seminggu kemudian, Perdana Menteri Kevin Rudd dilantik menggantikan John Howard yang telah berkuasa selama 11,5 tahun.

Pergantian kepemimpinan di Australia menarik bagi Indonesia mengingat hubungan kedua negara yang mengalami pasang surut. Rezim baru yang dikuasai oleh Labor Party menjanjikan harapan kerja sama yang lebih baik bagi Indonesia. Setidaknya ada beberapa indikasi ke arah hal ini. Pertama, Kevin Rudd terlihat lebih ramah terhadap Asia mengingat latar belakang pendidikannya pada Pusat Studi Asia di Universitas Nasional Australia (ANU) dan keahliannya dalam berbahasa Mandarin. Bahkan menantunya pun seorang berdarah Asia. Kedua, Kevin Rudd langsung mengunjungi Konferensi Perubahan Iklim di Bali dan segera terlibat dalam penandatanganan Protokol Kyoto yang selama ini enggan dilakukan negaranya. Ketiga, isu-isu yang diangkat dalam materi kampananye “kepemimpinan baru” menjanjikan hubungan internasional yang lebih adil dan menguntungkan.

Untuk meningkatkan hubungan dagang, Menteri Perdagangan Australia Simon Crean berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Menteri Perdagangan Indonesia Marie Pangestu (Kamis, 6 Desember 2007). Marie mengatakan bahwa pertemuan ini dalam rangka menjajaki kemungkinan kedua negara mengadakan persetujuan perdagangan bebas (free trade agreement/FTA). Dia juga menggarisbawahi bahwa potensi ekspor Indonesia ke Australia dinilai belum tergali secara optimal. Kinerja perdagangan dan investasi Australia dengan Indonesia juga masih di bawah rata-rata perdagangan dan investasi Australia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Seberapa besarkah volume dagang antarkedua negara, bagaimana perkembangannya selama ini serta apa saja hambatan yang ada perlu dianalisa sehingga diketahui peluang untuk peningkatan kerja sama perdagangan di masa yang akan datang.

Relasi Dagang RI - Australia

« Previous PageNext Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.